Ayah Ideologis..

· Goresan Kehidupan, Tulisanku

#Aku: selama diberi kesempatan, perbanyaklah anak ideologis mu..kaderisasi..

*Sohibku: itu yang diucapkan abang ente waktu ane tingkat 1 sma. hehe.

#aku: hhaa..jangan2 ane anak ideologis nya..

*Sohibku:🙂

 

(Cuplikan chatting beberapa hari yang lalu dengan salah seorang sohib terbaikku)

 

Ideologis.

Hmm.. Aku memang bukan anak biologisnya..

Ya jelaslah.. tak ada setetes darahnya yang mengalir dalam darahku..

Tapi, pemikirannya..

Pemikirannya selalu hadir dalam otakku..

Selalu mewarnai ide-ideku..

Bahkan saat aku menulis yang ku ingat adalah gaya bahasanya..

Diksinya..

Model strukturnya..

Bahkan alurnya..

Entahlah..

 

Apakah aku pengikut?

Bukan kawan..

Ini seperti anak yang memiliki gen yang sama dengan orang tuanya..

Seperti aku dengan ayah biologisku..

Karakter kami hampir sama..

Tak banyak bicara, tetapi dalam ketika menegur..

Lebih sering di luar, dibandingkan dengan di rumah..

Suka berpetualang, karena itu adalah tantangan..

Semangat untuk berkorban..

dan masih banyak lagi..

 

Apakah aku pengikut?

Bukan, itu karena gen-nya dominan dalam diriku..

Dan aku kagum dengan ayah ku dan perjalanan kehidupannya..

Lalu, bagaimana dengan ibu?

Maaf, kawan.. Kali ini aku ingin membicarakan seorang ayah..

 

Kembali.

Ideologis.

Pemikiran.

Apakah aku anak ideologisnya?

Hmm.. Mungkin..

Anak ideologis, kawan..

Seperti tulisanku sebelumnya..

Anak ideologis adalah:

Anak-anak yang kita bina sehingga memiliki ideologi seperti ideologi kita.

Anak-anak yang memiliki pemikiran yang sama dengan kita

.Anak-anak yang karakternya mirip dengan kita..

Anak-anak yang kapasitasnya sekapasitas kita..

Anak-anak yang  jika kita tak ada, mereka siap untuk memegang tanggung jawab kita.

Anak-anak yang siap setiap saat ketika dibutuhkan.

Anak-anak yang langkahnya adalah langkah kita..

Hingga,,, anak-anak yang memiliki visi hidup yang sama dengan visi kita..

Anak-anak ideologis, kawan..

Tak terikat dengan berapa umur kita..

Tapi seberapa besar kemampuan kita..

Kemampuan untuk mencetak anak-anak..

Bukan melahirkan..

Tetapi mencetak…

Anak-anak ideologis adalah hasil cetakan.

Cetakan yang kita buat..

Seberapa kuat kita bisa mencetak anak-anak yang beragam warna, kepribadian, cara berpikir, menjadi satu,, Satu ideologi.

Dan pembinaan adalah kuncinya..

Seberapa intens kita dengannya sehingga mereka terpengaruh dengan kita..

Itulah pembinaan.

Seberapa perhatian kita dengan mereka..

Seberapa sering kita bertemu dengannya..

Seberapa besar pengorbanan yang kita berikan kepada mereka…

Seberapa disiplin kita menginkubasi mereka dengan penugasan-penugasan..

Dan seberapa sering diskusi-diskusi dilancarkan dengan mereka…

Agar, ideologi itu tertanam kuat di hati..

Agar, kita bisa memiliki anak-anak ideologis yang se-tangguh kita..

 

Aku, hampir setiap hari bertemu dengan dirinya.

Bersamanya di rumah peradaban itu..

Melancarkan diskusi-diskusi, atau menyelesaikan tugas untuk visi..

Itu semua karena aku harus sekapasitas dia, kawan.

Tak peduli walau malam akhirnya menjemput..

Atau bahkan kembali mentari menghampiri..

Biarlah..

Yang penting aku bisa sekapasitas dia..

 

Ideologis.

Bahkan aku harus merapikan kembali peta yang sudah ku buat..

Peta yang memang masih berantakan..

Akhirnya rapi aku setelah menemukan visi..

 

Jika kalian merasakan ada perubahan dalam diriku,

maka dia adalah orang yang paling bertanggung jawab..

Dia, kawan..

Dia yang akhirnya menjadi ayah ideologisku..

Ayah yang bertanggung jawab atas pemikiran-pemikiran ku..

Atas kemampuanku..

Atas apa yang aku miliki sekarang..

 

Ayah yang kadang meninggalkan anaknya dengan berbagai tanggung jawab yang harus segera diselesaikan..

Ayah yang kadang mengatakan bahwa ia akan pergi meninggalkan anaknya jauh..

Ayah yang kadang menegur anaknya keras saat kami keliru..

Ayah yang kadang membuat kami menangis..

Ayah yang membuat kami selalu menggebu..

Ayah yang selalu menasehati..

Dan ayah, yang membuatku harus siap memegang ini semua saat ia harus pergi..

 

Ayah yang mengajakku untuk memikirkan dunia ini dalam usiaku masih belasan tahun..

Ayah yang membawaku untuk berbicara di depan ratusan pelajar..

Ayah yang mengantarkanku pada puncak tertinggi..

Ayah yang mengizinkanku untuk hidup tanpa ketergantungan orang tua..

Ayah yang memberikan ku semangat untuk mempunyai lebih banyak lagi anak-anak ideologis..

 

Ideologis.

Bukan harta sebagai warisannya..

Tetapi ilmu..

Pemikiran..

Karakter..

Itulah warisan yang diberikan oleh seorang ayah ideologis..

 

Sebelum masanya hadir..

Warisan itu harus didapat..

Seluruhnya..

Semuanya..

Hingga saat dia pergi, kami siap untuk menanggung..

Siap untuk tetap memperjuangkan visi ini..

Visi yang telah kita buat bersama..

 

Teriring doa untuk ayah yang lagi-lagi keluar kota..

(semoga fenomena yang dulu tak terulang, (^^)v )

22.23 WIB

Asrama peradaban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: