Membentuk Keluarga Islami untuk Peradaban

· Tulisanku

Sungguh, bersyukur aku diinkubasi di tempat ini. Di tempat yang katanya hanya orang-orang terpilih yang bisa mengaji di sini. Asrama biru itu bernama PPSDMS Nurul Fikri.

Dan kali ini aku akan membagikan sebuah ilmu yang baru saja didapat dari kajian fikih perempuan. Membentuk Keluarga untuk Peradaban Islam. Hm.. Bukan lagi galau, kawan. Tapi ini memang ilmu yang sangat penting untuk dimiliki oleh mereka yang mungkin sebentar lagi akan bertambah tanggung jawabnya, dari mar’atussholihah ditambah dengan zaujatul muthi’ah.

Dan pada akhirnya kekhawatiran itu terjawab. Terjawab dari kajian malam ini.

Seperti Khadijah yang selalu menjadi penenang bagi Rasulullah di saat beliau gelisah. Itu karena bunda Khadijah memiliki pengetahuan yang luas bagaimana menenangkan suasana dan mencari solusi atas permasalahan yang terjadi. Dan mungkin, kekhawatiranku pun hadir karena ketidaktahuan ku. Ketidaktahuanku untuk mempersiapkan diri menjelang usia 20 tahun.

Bukan kapan atau dengan siapa. Tapi apa yang sudah dipersiapkan.

Eits. Lagi-lagi bukan karena galau. Ini hanya pemikiran sekilas yang tiba-tiba terlintas.

Ya, memang bukan kapan atau dengan siapa. Tapi apa yang sudah dipersiapkan.

Hmm.. Untuk menjadi mar’atussholihah saja masih banyak checklist yang belum terpenuhi. Bagaimana mau naik ke tingkat selanjutnya?

Ada hal yang menarik saat kajian tadi.

Hidup ini bagaikan rumah. Dan setiap episode perjalanannya kita bagaikan ada di sebuah rumah.

Misalkan, sedang di ruang belajar. Tak perlu lah banyak memikirkan dapur. Fokus saja dengan apa yang dilakukan di ruang belajar. Proporsional lah dengan waktu yang ada.Kita harus mengetahui mana yang urusan kita mana yang urusan Allah. Kapan dan dengan siapa serahkan itu kepada yang berhak. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah milikNya, ada dalam kuasaNya. Yakini saja “Laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik, dan sebaliknya.”. Dan urusan kita adalah mempersiapkan diri. Memantaskan diri. Bukan hanya sekadar untuk menikah. It’s just a small part in this life. Tapi mempersiapkan diri untuk visi yang lebih besar lagi. Kembali ke JannahNya. Dan menikah hanyalah salah satu cara untuk menggapainya. Bagaimana dengan itu bisa membentuk sebuah keluarga yang beradab hingga kemudian bisa membentuk peradaban dunia. Dan tugas seorang wanita adalah tonggak bagi tegaknya peradaban itu. Karena setelah menjadi seorang istri maka tugas selanjutnya adalah seorang ibu, ummul madrasah. Menjadi guru peradaban yang mendidik suatu generasi. Dan secara konsekuensi seorang wanita harus memiliki pengetahuan yang luas pula. Memiliki kompetensi yang luas.

So, untuk kita-kita nih yang belum menikah, persiapkan diri dari sekarang. Pertama, secara keilmuan, pemahaman dan pengamalan dien dalam kehidupan. Karena laki-laki akan menikahi perempuan yang paling utama adalah karena dien nya. Kedua wawasan. Wawasan atas segala hal yang berkaitan dengan kehidupan. Ketiga, kesehatan. Karena tugas wanita begitu banyak. Butuh diri yang kuat untuk menjalani itu semua. Keempat, masih banyak lagi.. Silakan dicari masaing-masing🙂

Intinya, now is time for learning, growing and inspiring. \(^^)>

Yes, I’m ready for 20th years.. !

 

22.37 WIB

di asrama peradaban

(masih ramai dengan kegiatan para aktivis (^^)v )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: