Memimpin dengan Hati…

· Tulisanku

Masih ingat saat aku masuk ke sebuah organisasi tingkat UI dan ketika itu masih menjabat status MABA, ada seorang mba yang memberikan nasihat, “Organisasi itu ya keluarga.. ”

Hmm.. Membangun organisasi adalah membangun sebuah keluarga. Bagaimana seorang pemimpin menjadikan dirinya sebagai orang tua yang mengayomi, saudara yang peduli dan guru yang mendidik. Bagaimana seorang pemimpin mampu memberikan pemahaman kepada yang dipimpinnya sehingga apa yang dilakukan mereka dalam organisasi bukan sekadar karena kewajiban, tapi ada rasa disana. Rasa cinta yang membuat mereka tak pernah rela untuk meninggalkan amanah. Membuat mereka berkata, “Aku melakukan ini karena cinta…” Teori mana yang membantah bahwa cinta membawa seseorang kepada pengorbanan yang sangat tinggi? Ah, tak perlu ku jabarkan tentang cinta. Kalian pasti lebih memahaminya.

Pemimpin itu… Punya banyak berkas mengenai orang-orang yang dipimpinnya. Satu per satu dia tahu betul siapa yang dia pimpin. Satu per satu dia tulis apa yang telah dilakukan bersama orang yang dipimpinnya. Setiap hari dia tulis bagaimana perkembangan orang2 yang dia pimpin. Hmmm.. Aku pun masih belajar untuk itu..

Seperti yang disampaikan oleh Pak Joko Wiedodo, Wali kota Solo dalam sebuah seminar kepemimpinan, “Pemimpin itu adalah dia yang paling depan dalam menyelesaikan masalah dan paling belakang dalam menikmati hasil.” Hmm.. Hebatnya pemimpin seperti itu…

Mengayomi seperti seorang ayah yang rela banting tulang untuk memberikan nafkah kepada keluarganya, atau seperti ibu yang paling paham mengenai kondisi anak2nya sekecil apapun permasalahannya. Peduli kepada yang dipimpin, bukan saja menanyakan,”bagaimana prokermu?”, tapi mendahulukan, “Bagaimana kabarmu?”. Dengan setia mendengarkan mereka, dan langsung respon saat mereka ada masalah. Layaknya sebuah tangan yang langsung menggaruk saat punggung merasa gatal. Dia adalah yang paling paham mengenai kondisi yang dipimpinnya. Seperti Rasulullah yang beliau mengetahui bagaimana cara menghadapi setiap sahabatnya. Dengan Abu Bakar yang lembut atau dengan Umar bin Khaththab yang tegas.

Pemimpin itu mendidik, menjadi sosok teladan yang baik. Tidak sekadar meminta mereka untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan tetapi menyiapkan kemampuan untuk mereka berbuat lebih. Ada upgrading di sana. Bagaimana menjadikan orang2 biasa yang masuk ke dalam organisasi kita kemudian menjadi luar biasa. Dengan kapasitas yang bahkan bisa melebihi kita. Karena pemimpin itu, menciptakan pemimpin lagi, bukan pengikut.

Memimpin dengan hati, menjadikan seorang pemimpin sebagai seorang yang masuk dalam daftar orang-orang yang dicintainya. Pemimpin itu akan menjadi “seseorang” yang berarti dalam hidup mereka. Dan, ehm.. Pemimpin itu akan dikenang sepanjang masa..

Memimpin dengan hati.. Bahkan, dalam setiap doanya, dia sebut nama orang2 yang dipimpinnya, didoakan satu per satu.. Lama nian memang, tapi itulah bagaimana dia bisa memimpin dengan hati, dengan mengikat hati orang-orang yang dipimpinnya. Dengan doa yang tak pernah lepas dari lisannya. Mendekatkan diri kepada Sang Pemegang hati, dan memohon agar adanya ikatan hati yang kuat antara dia dan yang dipimpinnya.

Memimpin dengan hati, dia berani mengatakan, “aku mencintai kalian..” dan itu artinya, cinta menuntut pengorbanan.. Pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran.. Bagaimana tidak, pemimpin itu bukan hanya memikirkan cara untuk tercapainya visi, tetapi juga memikirkan orang2 yang mensukseskan visi itu.. Ya Allah, berat sekali pekerjaan pemimpin..

Ya, seberat apapun itu.. Akan ada balasan yang indah bagi mereka yang mampu memimpin dengan hati.

Semoga kita bisa melakukannya…

-01.06 dalam asrama peradaban.

2 Komentar

Comments RSS
  1. azfiz

    ya semoga, semoga🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: