Gunung Tertinggi Jawa Barat

· Goresan Kehidupan

Puncak Ciremai

Puncak Gunung Ciremai, puncak tertinggi di Jawa Barat, dipilih menjadi gunung pertama yang ku daki (lebih tepatnya ku panjat.. hhe..). Awalnya begitu semangat aku untuk mencapainya. Ah, ini baru puncak gunung di Indonesia. Target kan mau mendaki puncak Fujiyama. Ok, baiklah. Azzam sudah dipegang. Sebelum kepergianku ke Kuningan, Cirebon, aku sempatkan untuk membuat kondisiku menjadi kritis. Aku sebarkan info ini ke teman2 kuliahku, terlebih sohib yang sama-sama ingin mendaki puncak Fujiyama. Status FB pun isinya juga info kalau aku ingin mendaki hingga puncak Ciremai. Hmm.. Kalau sudah seperti ini kan mau tidak mau memang harus sampai puncak.

Sesuai dengan bimbingan dari sang pembina, bahwa latihan fisik menjadi andalan kita untuk mempersiapkan diri sebelum ke puncak. Ok, naik turun tangga menjadi kegiatan rutin di pagi hari. Bahkan beberapa hari pun ku sempatkan untuk berjalan kaki dari Asrama menuju kampus. Makanan sudah terjaga. Minum susu, makan buah dan sayuran pun sudah dilakukan. Sip, berarti aku siap nih untuk menaklukan Puncak tertinggi itu.

“Siap-siap ya, kita akan melewati Jalur Linggarjati. Jalur yang terjal di Ciremai. Bahkan kk saja saat kesana harus pegang akar sana sini untuk mendakinya.” (Kata sang pembina). Hmm.. Paling2 jalurnya ga jauh beda dengan jalur Tracking. Nah, kalau untuk tracking, aku sih sudah terbiasa dengan ini. 4-5 jam keliling hutan di gunung ya sanggup lah.

Jumat, 12.00 malam (lebih tepatnya sabtu 26 Nov 2011 00.00 WIB) 

Kami bersembilan berangkat ke gunung Ciremai. Ditemani headlamp, dan beberapa senter kami menyusuri hingga pos Cibunar. Subhanallah, bintangnya indah.. Jadi semangat untuk menuntaskan perjalanan hingga puncak malam ini agar bisa melihat bintang dengan jelas. “Ayo kak, sudah siap nih jalan.” Tetapi disini aku diberikan pelatihan mengenai solidaritas, kepedulian dengan sesama. Salah seorang dari tim kami benar-benar lelah. Dan begitu pula dengan beberapa anggota tim yang sepertinya lebih ingin menikmati malam di dalam Sleeping bag dibandingkan dengan menyusuri hutan. Sami’na wa atho’na. Keputusan dari sang pembina adalah kita semua tidur, istirahat sejenak dan esok pagi baru melanjutkan perjalanan.

05.00 WIB

Dinginnya shubuh mulai merasuk ke tulang. Brrr… Rasanya ingin minum teh hangat. Ba’da shalat shubuh langsung saja kami berkemas. “Yuk, jalan ..” Bismillah.. Kembali ku niatkan perjalanan ini untuk mengambil hikmah dari penciptaanMu.

Perlahan. Aku tak membawa apa-apa untuk mendaki. Cukup 2 jaket yang senantiasa melekat di badan dan beberapa bungkus coklat untuk makanan selama di perjalanan.

“Ah, capek.. Istirahat dulu ya.. ” Beberapa orang mulai kelelahan.

“Aku turun aja ya.. ” Hmm.. Ini nih, baru perjalanan awal tapi sudah mengeluh dan menyerah untuk turun.

“Ayo dong, semangat. Kita kan kesini mau ke puncak, bukan hanya jalan-jalan gini.” Ya, itulah semangat dari seorang yang memang sering naik gunung. (wajar)

Oke, aku akhirnya berangkat duluan beserta dua ikhwan muda, santri Tsanawiyah di sebuah Pondok di Kuningan (sebut saja Husnul Khatimah). Namanya Azzam dan Ihsan. Dua anak ini sebenarnya tidak diajak, namun mereka bersikeras untuk ikut naik. Selama diperjalanan bersama dua anak ini, aku sering tertinggal (gara2 masih berpikiran bahwa ini adalah pengalaman pertama ku, wajar dong kalau sulit. Aku kan perempuan, wajar dong kalau tertinggal dari mereka. Beneran, entah dari mana aku bisa berpikir seperti itu). “Wah, 5.5 KM lagi… Yuk, kita gerak cepat.” Pikirku, aku bisa menjadi yang pertama yang mampu mendaki gunung, (ya.. pun kalau tidak menjadi juara 3 lah..).

Hup..Hup…Hup.. (Ini benar2 panjat gunung). Untung aku pakai rok lapangan. Jadi bisa lebih leluasa panjat2 seperti ini. Aku biarkan mereka berdua di depan. Agar aku bebas bergerak (bebas milih gaya panjat). Pegang akar, batu, lompat, bahkan pernah ingin terjatuh. Setiap kali bertemu dengan dataran yang jauh tinggi aku selalu berhenti sejenak. Berpikir bagaimana caranya agar bisa memanjat. Kira2 akar mana yang bisa diraih. Tanah mana yang bisa digunakan untuk berpijak. Inilah pelajaran selanjutnya, “How to make decision” and “Brave to do it”. Di sini diajarkan bagaimana membuat keputusan yang tepat dan berani melaksanakannya. Dalam hati, “Ayo nisa, kamu kan sering menyemangati orang lain. Katanya kita harus berani. Kamu kan suka tantangan, masa’ gini aja ga bisa.??” Oke, malu dengan diri sendiri. “Allahu Akbar..!!” Teriakku setiap melewati satu demi satu panjatan. Eh, ternyata dua anak itu senantiasa menunggu ku saat memang jarak kita terlalu jauh. The Best lah mereka. Si Azzam benar-benar memiliki azzam yang tinggi untuk mendaki hingga puncak, dan si Ihsan yang senantiasa calm namun penuh kepedulian. Dan sebenarnya diantara kami tidak ada satu pun yang mengetahui jalur itu. Hanya menggunakan feeling. Pelajaran selanjutnya, “Gunakan perasaanmu jika berjalan di tengah hutan. Dan mohon lah petunjuk kepada Allah”.

“Kak Kusnan.. Andra.. Tholhah.. Awwah.. Ka puji.. Ka Aisyah..”

“Kemana ya mereka..??”

Rombongan benar2 terpisah selama berjam2. Aku dan dua ikhwan itu tetap berjalan menyusuri satu pos ke pos yang lain. Hingga kami pun mendengar teriakan. “Woy… tunggu.. ” Itu Andra, tholhah..  Beserta kak Puji yang ternyata sanggup juga nanjak. “Mana yang lain??” “Banyak problem tadi, nanti lah diceritakan.”

Oh, ternyata Kak Kusnan, sengaja ditinggal di bawah menjaga barang-barang kami. Kak Aisyah, tiba-tiba sakit, dan Awwah pun harus rela menjaganya.

“Ok, kita tunggu Awwah, ane sudah suruh dia untuk ke sini apapun keputusannya. Apakah akan tetap naik atau turun.” (kata Si Andra)

Krik..krik.Krikk.. Hening sejenak, suasana agak dingin. Di sini kami dilatih kesabaran.

“Ngapain sih nunggu lama2. Yaudah, kita bagi2 aja seperti yang tadi. Ada yang ke Puncak duluan dan ada yang menunggu teman2 yang sakit. Dan menjadi rombongan kedua.”

“Ga bisa kak, ane sudah bilang ke Awwah untuk kesini. Apapun yang terjadi, kita harus bareng2.. Kalian belum pernah kesini kan. Ane punya tanggung jawab kak terhadap kalian.”

*suasana memanas….

Oke, Innallah ma’ashshobiriin…

Hah,,, akhirnya Awwah dan Kak Aisyah datang..

“oke, sekarang kita bikin kesepakatan. tiba atau tidak di puncak, jam 1 siang harus sudah balik ke bawah.”

Kesepakatan ini dibuat menimbang kalau sudah malam agak berbahaya, terlebih senter yang kritis, pikirnya di awal.

Dan sunnatullah.. Kembali lagi rombongan terpisah menjadi dua. Dua ikhwan muda itu benar2 bersemangat untuk mendaki. Dan akhirnya aku pun tergantikan oleh Kak Puji. Mereka berempat bersama tholhah..  jalan lebih dahulu.

Dapatlah aku, kak ai, awwah dan andra menjadi rombongan akhir.

Sepanjang perjalanan aku belajar tentang bagaimana mempertahankan semangatku. Mendaki gunung itu bertarung mengalahkan ego. Mendaki gunung itu hanya memerlukan dua langkah, dimulai dengan kaki kanan dan dilanjutkan dengan kaki kiri yang kemudian diulang-ulang. Tak lebih dari itu. Kalau kata pendaki, gunung itu tak lebih dari lutut kaki. Tapi bagi kami, tinggi gunung itu tak lebih dari mata kaki. Mendaki gunung itu, benar-benar membuat diri kita di latih oleh alam. Padahal, diawal rencana kami adalah Training bersama Kak Kusnan selama di sana. Namun, kami akhirnya menempuh tanpa beliau. “Wah, kayaknya kak kusnan sudah bilang ke Allah nih, agar alam yang men-training kita.” Yah, itulah sunnatullah. Saat kondisi seperti itu, hukum alam lah yang bermain. Semua kartu terbuka. Ada yang mengeluh, ada yang sabar penuh pengertian, ada yang ga sabar menunggu, ada yang semangat, ada yang moody, ada yang …. Begitulah..

“Aku ke sini untuk mencapai puncak, bukan sekadar jalan2…” Kataku dalam hati memotivasi..

Hingga pada akhirnya, aku menjadi orang ke enam yang berhasil mencapai puncak, Dan menjadi wanita pertama dari tim yang mencapai puncak Ciremai. Dahsyat,, Sungguh indah pemandangannya. Menjadi orang di negeri atas awan. Sholat ashar dan zhuhur pun benar-benar kunikmati saat di puncak.. Tak lupa sujud syukur atas segala kekuatan yang diberikan. Allahu Akbar..!! Hanya dengan kekuatan Allah aku bisa mencapai puncak ini.

Shalat Ashar jama’ Zhuhur di atas puncak Ciremai

16.00 WIB kira-kira pada pukul itu kami dapat mencapai puncak. Puncak pertama yang menjadi saksi sejarah bagiku, pengalamanku mendaki gunung. Dan sekarang pun aku baru tau bahwa itu adalah jalur yang ter-ekstrim di Pulau Jawa. Bayangkan teman2, ini adalah pengalaman pertama ku mendaki gunung, dan aku pun langsung melewati jalur tersulit di Pulau Jawa. Subhanallah.. Jika tidak karena kekuatan Allah, aku tidak akan bisa mencapainya.

Tim Ekspedisi tiba di Puncak Ciremai

Inilah pelajaran inti, Get Fast Track, mengajarkan kita untuk push the limit.. Bergerak cepat disaat kondisi kritis, dan memaksakan diri untuk menaklukan ego. Karena gunung itu tak lebih dari mata kaki.

Gunung Tertinggi sekalipun tak lebih dari Mata Kaki

4 Komentar

Comments RSS
  1. azfiz

    anooo.., chotto.. bukannya yang wanita pertama itu kak Puji Astutik ya..? O.o

  2. Hamimeha

    assalamu’alaikum salam kenal,.wah saya tertarik dg pendakian..tapi masih belum menemukan komunitas yang “menampung ” cewek berjilbab nich ..kira” tahu ndak?

    • physicsfighter

      wa’alaikumussalaam… ^^.. Setau saya mapala pun bisa menerima wanita berjilbab .. tinggal kita mau ikut mereka atau tidak.. atau buat aja komunitas sendiri.. saya yakin pasti banyak yang mau ikut..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: