Lembar Tadzkirah#3 (terbaru)

· Islam

Hati.. Bacalah, Aku Sedang Membincangimu

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kecintaan untuk mendapatkan apa yang dicintai sebagai jalan; yang menciptakan ketaatan dan ketundukan kepada-Nya berdasarkan ketulusan cinta; sebagai bukti yang menggerakkan jiwa kepada berbagai bentuk kesempurnaan; sebagai sugesti untuk mencari dan mendapatkan cinta itu; yang telah menganugerahi alam atas dan alam bawah untuk mengeluarkan kesempurnaan-Nya dari kekuatan kepada perbuatan sebagai penghamparan, yang telah membangkitkan hasrat dan minat untuk meraih tujuannya sebagai pengkhususan bagi-Nya.

Mahasuci Allah yang telah melebihkan orang-orang yang mencintai-Nya, mencintai kitab dan rasulnya daripada seluruh pecinta. Dengan cinta dan untuk cintalah langit serta bumi dicintakan. Atas dasar cintalah semua makhluk diberi fitrahnya masing-masing. Karena cintalah seluruh planet bergerak pada garis edarnya. Dengan cintalah semua gerakan bisa mencapai tujuannya dan yang permulaan berhubungan dengan yang penghabisan. Dengan cintalah jiwa manusia merasa beruntung karena mendapatkan tuntutan dan harapannya, terhindar dari kebinasaan dan menjadikannnya sebagai jalan untuk menuju Rabb-nya. Hanya cintalah yang bisa diharapkan dan sekaligus sebagai sarana. Dengan cintalah manusia bisa memperoleh kehidupan yang layak dan mereguk kelezatan iman, karena ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebaga Agama dan Muhammad sebagai Rasul.

Duhai kawan, simak kisah dibawah ini, sebuah kisah yang pernah terjadi di zamannya, perhatikan dan baca dengan seksama, semoga Allah melapangkan hatimu.

*** Sore hari di kantin belakang

La masih duduk terdiam di samping sisi Dina, dari kedua matanya yang bening keluar tetesan seperti embun. La memejamkan mata, sakit, seperti ada belati yang menghujam ke dalam ulu hatinya, perih, seolah ada paku tajam berkarat menusuk ke dalam kaki, rasanya menjulur dari kaki hingga kepala, la merasa dikhianati, hal itu membuat dirinya mencerca dirinya sendiri, rasa bersalah luar biasa, sakit, perih dan pedih. Air matanya meleleh.

Oh, apa kata Allah nanti, ketika dimana mulut di tutup dengan rapat dan semua tubuh menjadi saksi atas kejadian ini, apa yang kukatakan nanti kepada baginda Rasulullah saat bertemu di telaga kautsar, masihkah pantaskah aku meminum air dari tangannya ?,

*** Ketegasan sikap

Sore itu Fahri mengajak Mai untuk bertemu di kantin belakang setelah pulang sekolah, karena merasa was-was, Mai mengajak sahabat dekatnya Dina untuk menemani.

“Iya ada apa, Fahri ?”,

“Oh, Ukhti berdua ?”, balas Fahri

“Kalau Antum merasa terganggu, lebih baik Ana pergi”, sahut Dina

“Gak Dina, duduk sini, di samping Ana”, balas Mai

Mereka duduk saling berpandangan satu sama lain, saat pandangan mata mereka bertemu, Mai merasa ada yang aneh dengan tatapan Fahri, tidak biasanya, pandangannya begitu tajam, agak khawatir dengan sikap Fahri, Mai memutuskan untuk menundukan pandangannya, Dina dengan setia duduk disampingnya sambil membuka catatan pelajaran terakhir.

“Ada apa Fahri ?”, Mai memulai percakapan

“Hmm, anu … Ana mau menyatakan perasaan Ana ke Ukhti …”,

Mendengar kalimat terakhir Mai langsung terkejut, butuh waktu agak lama untuk mencerna kalimat itu, sebuah kalimat yang kurang pantas diucapkan oleh seorang bernama Fahri. La masih duduk terdiam di samping sisi Dina, perlahan dari kedua matanya yang bening keluar tetesan seperti embun. La memejamkan mata, sakit, seperti ada belati yang menghujam ke dalam ulu hatinya, perih, seolah ada paku tajam berkarat menusuk ke dalam kaki, rasanya menjulur dari kaki hingga kepala, la merasa dikhianati, hal itu membuat dirinya mencerca dirinya sendiri, rasa bersalah luar biasa, sakit, perih dan pedih. Air matanya meleleh.

Oh, apa kata Allah nanti, ketika  mulut di tutup dengan rapat dan semua tubuh menjadi saksi atas kejadian ini, apa yang kukatakan nanti kepada baginda Rasulullah saat bertemu di telaga kautsar, masihkah pantaskah aku meminum air dari tangannya ?,

“Antum jahat !”, dengan penuh simbah air mata, Mai masih dapat tegas seperti biasanya

“Maksud Ukhti apa ? Ana gak paham”, jawab Fahri dengan sedikit melemahkan suaranya

“Antum berbicara kepada orang lain tentang menundukkan pandangan, bahkan tak jarang Antum mengutip ayat favorit  ketika melihat hal ini di hadapan Antum, namun mengapa Antum melakukan hal tersebut kepada Ana”, balas Mai

“Afwan Ana tidak bermaksud begitu Ukhti“,

“La ! Tidak ! Antum telah menodai Ana”,

“Tapi … tapi … Ana…“, balas Fahri dengan gugup

“Astagfirullahal’adzim …”, balas Mai sambil mengelus dadanya

Saat itu muka Fahri menjadi pucat, bingung harus berkata apa, diam sesaat, ya, itu posisi yang terbaik, saat mau bangkit dan meninggalkan bangku, Mai berkata dengan sedikit keras, “Afwan, Antum jangan kemana-mana Ana ke masjid dulu, masalah ini harus dituntaskan”.

Jleg, seorang Fahri yang memiliki badan proporsional itu tak dapat berkata apa-apa, kaget bagai disambar petir, baru pertama kali Fahri dibentak oleh seorang akhwat rekanannya, biasanya Fahri yang lebih tegas, namun saat itu entah kemana.

Beberapa menit kemudian Mai dan Dina kembali ke tempat duduk, dengan hati yang tenang, wajah yang dibalut air wudhu, serta memohon pertolongan kepada Allah, Mai kemudian berkata,

“Cukup hari ini kutinggalkan kelamku… tentangku dan masa lalu yang membuatku dikhianati. Biarkanlah ku hidup dengan nafas yang baru. Nafas yang menyimpan kedamaian …”, ucap Mai dalam hati

“Duhai akh Fahri, terima kasih atas kecintaan karena Allah atas Ana, namun perlu Antum ketahui, apa yang Antum awali harus segera diakhiri,  Allah menjadikan pandangan mata sebagai cermin hati, jika seseorang menahan pandangan matanya, berarti dia menahan syahwat dan keinginan hati, jika dia mengumbar pandangan matanya, berarti dia mengumbar syahwat hatinya”,

“Tahukah? Antum telah menzinai Ana..”,

“Hah !, Ana bahkan belum menyentuh Ukhti”, jawab Fahri

“Memang tidak secara langsung, namun masih ingatkah Fahri dengan hadist ini?, ‘Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata itu bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan. Lidah itu bisa berzina dan zinanya adalah perkataan. Kaki itu bisa berzina dan zinanya adalah ayunan langkah. Tangan itu bisa berzina dan zinanya adalah tangkapan yang keras. Hati itu bisa berkinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya”,

“Iya masih, namun, bukankah nabi pernah berkata untuk mengatakan cinta karena Allah kepada seseorang?”,

“Fahri, yakin dengan ucapan yang Antum sebutkan tadi? Apakah tidak ada embel-embel dibaliknya? Jujurlah pada hati, biarkan dia berbicara tentang dirinya”.

“Iya insyaallah”, jawab Fahri

“Afwan, tapi Ana gak ingin hal ini menodai Ana, menghilangkan berkah cinta yang sesungguhnya kepada Allah”,

“Apakah cinta Ana ditolak? Apakah cinta ini begitu haram buatmu?”, balas Fahri

“Cukup Fahri, biarkan hati Antum berbicara tentang dirinya, jangan biarkan syetan masuk dan menggiring antum ke dalam jurang kenistaan, jangan biarkan syetan mendapatkan sedikit apa yang dibutuhkannya untuk menemaninya di neraka, jadilah seorang mukmin yang menggunakan akal dibanding nafsunya, jadilah Fahri yang Ana kenal dulu”,

Mendengar ucapan terakhir Mai, hati Fahri berbunga-bunga, Fahri benar-benar telah masuk ke dalam perangkat syetan, Mai melihat gelagat itu, dan sepertinya dia telah salah lagi, benar apa kata nabi, orang mukmin itu melihat dengan cahaya Allah dan itu terdapat pada Mai.

“Fahri yang ku kenal adalah yang memiliki sifat tegas, seberani singa ketika melihat kemungkaran di depannya, pemimpin dan contoh yang baik untuk teman-temannya”,

Mendengar hal itu, hati Fahri semakin berbunga-bunga, seakan Allah telah melimpahkan segala cinta kepadanya, hatinya sejuk, andai ia tahu, saat itu syetan sedang memainkan perannya dengan amat lihai meniup-niupkan angin ke hatinya.

Kemudian Mai melanjutkan kalimatnya selanjutnya, “Namun Fahri yang Ana lihat sekarang tak lebih dari orang bodoh yang telah berhasil dibujuk oleh syetan”,

“Hah !”, sontak hatinya langsung jatuh, yang tadinya berbunga-bunga sekarang telah mengering.

“Duhai Fahri, Antum tahu, Allah tidak pernah mengharamkan sesuatu atas hamba-Nya, termasuk cinta antum kepada Ana. Namun Allah mengharamkan penetapan suatu pilihan dengan menggunakan beberapa anak panah yang tidak ada bulunya, lalu menggantinya dengan do’a istikharah, Allah mengharamkan zina dan homoseks dan menggantinya dengan pernikahan dengan wanita yang disenanginya, Allah mengharamkan makanan-makanan haram dan mengganti dengan makanan halal lagi baik. Jika Antum bisa menangkap isyarat ini dan mengamatinya, tentu mudah bagi orang secerdas Antum untuk meninggalkan nafsu, lalu menggantinya dengan hal-hal bermanfaat, Allah memberikan perintah kepada kita sebagai perwujudan kebaikan dan rahmat, menyampaikan larangan kepada kita agar hendak menjaga dan melindungi dari hal-hal yang berbahaya, entahlah Fahri, Ana masih terlalu muda untuk hal ini, Antum dan Ana masih ada dalam tanggung jawab orang tua, Ana tidak tega mengkhianati orang tua Ana, melihat mereka berangkat amat pagi dan pulang tengah malam untuk membiayani Ana, berdoa siang dan malam untuk kebaikan Ana dunia dan akhirat, namun Ana mengkhianatinya dengan menghabiskan waktu bersama Antum, membalas sms-sms antum yang gak penting, memikirkan Antum setiap hari, tentu Antum tahu, Ana sebagai perempuan memiliki kecenderungan ini, jika ini terjadi, maka syetan telah berhasil membujuk Ana dan Antum, mengkhianati orang tua, dan bersiap untuk menanggung malu ketika di yaumil akhir”,

Fahri pun terdiam, kalimat-kalimat bijak yang biasa keluar dari mulutnya seakan Allah kunci, dan  menggantinya dengan kelapangan hati, kemudian Mai melanjutkan.

“Fahri benar mencintai Ana karena Allah ?”,

“Iya insyaallah”, jawab Fahri dengan Allah

“Alhamdulillah, semoga Allah membenarkan ucapanmu, namun Ana tegaskan! Ana tidak suka dengan sikap Antum saat ini, dan Ana tidak suka dengan seseorang yang menodai dirinya, mulai hari ini Ana minta dengan sangat, perlakukan Ana sebagaimana biasanya, perlakukan Ana sebagai staff Antum, bukan orang yang Antum ‘cintai’ ”,

“Afwan, syukron jazakillah Ukhti telah mengingatkan Ana, benar kata Ukhti, Ana seperti membakar waktu, berangan-angan kosong, afwan atas segala sikap yang meresahkan dan membuat tidak nyaman Ukhti, sungguh Ana malu sebagai pemimpin”,

“Sudah menjadi tugas kita untuk saling mengingatkan dalam kebaikan”,

“Iya, Ukhti benar, semoga hal ini tidak terjadi lagi kepada Ana, dan semoga Allah melindungi Ana dalam melanjutkan estafet dakwah di sekolah, sekali lagi syukron jazakillah sudah mengingatkan Ana, Ana pamit duluan”,

“Tunggu dulu, Antum sebagai pemimpin perlu tahu informasi ini”,

“Informasi apa ?”,

“Syetan juga telah berhasil menggoda saudara kita yang lain”,

“Astagfirullah, sungguh syetan telah membutakan hati Ana”,

“Segeralah bertindak dan jadilah Fahri yang Ana kenal”,

Fahri pun tersenyum, namun senyum kali ini berbeda dengan sebelumnya, sebuah senyum tulus tanpa makna, dan Mai pun tahu hal ini lewat firasatnya dan membalas senyumannya.

“Semoga Allah memudahkan langkah kita, dan menjadikan kita orang-orang yang dimuliakan disisinya, Ana pamit dulu, assalamu’alaykum”, penutup dari Fahri

“Amin, wa’alaykumussalam”, penutup dari Mai.

***

Duhai kawan, begitulah Islam mengajarkan, menjaga hijab yang bukan muhrimnya, menjaga mata dan hati, mata adalah panglima hati, hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata, bila dibiarkan mata memandang yang dibenci dan dilarang, maka pemiliknya berada di tepi jurang bahaya. Meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh kedalam jurang, demikian potongan nasihat yang di kutip dari Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin.

Sebagian shalafus Shalih pun mengatakan, “Banyak makanan haram yang bisa menghalangi orang melakukan shalat tahajjud di malam hari, Banyak juga pandangan kepada yang haram sampai menghalanginya dari membaca Kitabullah”.

Dalam Al-qur’an Allah berfirman :

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (Q.S An-Nur: 30)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S An-Nur:31)

Mengutip pula dalam Raudhatul-Muhibbin, hal 182-190, “Sesungguhnya seseorang yang bersemangat tidak akan terpengaruh oleh cinta yang bisa menghalangi ketenangan, membuat tidur tidak bisa nyenyak, membuat bingung akal pikiran, atau bahkan membuatnya menjadi gila. Betapa sering terjadi seseorang yang sedang dimabuk cinta menghabiskan harta dan mengorbankan jiwa serta kehormatannya demi yang dicintainya. Bahkan ia rela mengorbankan agama dan dunianya.

Cinta sanggup membuat tuan menjadi pelayan, dan penguasa menjadi budak. Anda lihat, banyak orang yang sudah terlanjur masuk dalam jerat cinta ingin keluar darinya. Tetapi hal itu mustahil. Berapa banyak fitnah cinta yang menjebloskan orang-orang yang bersangkutan ke dalam neraka Jahim, menjerumuskan mereka pada siksa yang sangat pedih, dan membuat mereka meneguk air gelas neraka yang panas mendidih ?”

Alhamdulillah,semoga bermanfaat, semoga pula Allah memberikan naungan dan berkahnya kepada kita semua, amin.

Oleh: Kinta Mahadji – Alkarim’05

***

Cobaan Pria Tampan


Siapa bilang Pria tampan tidak punya cobaan? simak kisah dibawah ini :

Al-Hafizh Muhammad bin Nashir meriwatkan perkataan Asy-Sya’by secara mursal, dia berkata, “Para utusan Abdul-Qais mendatangai Nabi Shallallahu Alaihi wa Wasallam. Lalu Nabi menundukkan pemuda itu di belakang punggunya, seraya bersabda, “Orang yang memandangnya adalah orang yang melakukan kesalahan”.

Sa’id bin Al-musayyab juga pernah berkata, “Jika kalian melihat ada seseorang memandang tajam seorang pemuda yang halus dan tampan, maka curigailah dia !”.

Ibnu Ady menyebutkan dari perkataan Baqiyah, dari Al-Wazi’, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah ra, dia berkata Rasullullah melarang seseorang memandang tajam seorang pemuda yang tampan.”

Ibrahim An-Nakha’y, Sufyan Ats-Tsaury dan lain-lainnya dari kalangan slaf melarang duduk-duduk dengan pemuda tampan. An-Nakha’y berkata, “Duduk dengan pemuda tampan adalah cobaab, karena pemuda tampan itu tak ubahnya wanita.”

Nah loh, jadi buat kamu yang merasa tampan, hati-hati ya, bisa jadi cobaan buat yang melihatnya, tetap minta perlindungan Allah selalu agar tetap terjaga.

Manfaat Menahan Pandangan Mata

Duhai kawan, berikut beberapa manfaat yang bisa kamu rasakan karena menahan pandangan mata :

1. Membersikan hati dari derita penyesalan

Siapa yang suka mengumbar pandangannya matanya, maka penyesalan yang dia rasakan tiada henti-hentinya. Sesuatu yang paling berbahaya bagi hati adalah mengumbar pandangan, karena dia akan melihat apa pun yang dicarinya dan tidak bersabar. Itulah derita dan siksaan yang dia rasakan.

2. Membuka pintu dan jalan ilmu serta memudahkan untuk mendapatkan sebab-sebab ilmu

Hati yang bersinar terang akan memunculkan hakikat-hakikat pengetahuan di dalamnya dan mudah dikuak, sehingga sebagian demi sebagian ilmu itu bisa diserap. Namun siapa yang mengumbar matanya, maka hatinya akan menjadi kelam dan gelap. Jalan dan pintu ilmu menjadi tertutup.

3. Mendatangkan cahaya dan keceriaan di hati

Cahaya dan keceriaan yang datang karena menahan mata bisa terlihat di mata, wajah dan seluruh anggota tubuh, sebagaimana mengumbar pandangan yang mendatangan kepekatan yang terlihat di wajah dan seluruh anggota tubuh.

4. Mendatangkan kekuatan firasat yang benar

Menahan pandangan bisa mendatangkan kekuatan firasat, karena firasat itu termasuk cahaya dan buah dari cahaya. Jika hati bercahaya, maka firasat juga tidak akan meleset. Sebab hati itu kedudukannya seperti cermin yang memperlihatkan seluruh data seperti apa adanya. Sedangkan pandangan adalah seperti menghembuskan napas di cermin. Jika seseorang mengumbar pandangan matanya, maka dia seperti menghebuskan napas di cermin hatinya, sehingga cahayanya menjadi pudar.

5. Mendatangkan kegembiraan, kesenangan dan kenikmatan

“Demi Allah, kenikmatan karena menjaga diri dari hal-hal yang hina, jauh lebih besar daripada kenikmatan mencicipi dosa.”. Kegembiraan dan kesenangan ini jauh lebih melegakan dari kesenangan yang diperoleh dengan mengumbar pandangan. Sebab dia mampu menahan musuhnya, dengan cara menentangnya dan menentang hawa nafsunya. Disamping itu, tatkala dia mampu membekukan kesenangan dan syahwatnya karena Allah, suatu kesenangan yang menjurus kepada keburukan, maka Allah menggantinya dengan keseangan dan kenikmatan yang lebih komplit.

6. Mendatangkan kekuatan hati, keteguhan dan keberanian

7. Membebaskan hati dari tawanan syahwat

Sesungguhnya orang yang layak disebut tawanan adalah orang yang bisa ditawan syahwat dan hawa nafsunya, seperti yang dikatakan dalam sebuah pepatah, “Orang yang mengumbar pandangannya matanya adalah seorang tawanan.”

8. Menutup pintu neraka jahannam

Pandangan mata adalah pintu syahwat yang menuntu pelaksanaannya. Pengharaman Allah dan syariat-Nya merupakan tabir penghalang untuk mengumbar pandangan. Siapa yang merusak tabir ini, dia akan berani melanggar larangan. Dia tidak akan berhenti pada satu tujuan saja. Jiwa manusia tidak menentang tujuan yang sudah diperoleh, lalu dia ingin mendapatkan kesenangan dalam hal yang baru lagi. Orang yang sudah terbiasa dengan sesuatu yang pernah ada, tidak menolak untuk menerima sesuatu yang baru, apalagi jika sesuatu yang baru itu tampak lebih indah. Menahan mata bisa menutup pintu ini, yang karenanya banyak raja-raja tidak mampu mewujudkan apa yang diinginkannya.

9. Menguatkan dan mengokohkan akal

Mengumbar pandangan mata tidak  dilakukan kecuali oleh orang yang lemah akalnya, gegabah dan tidak mempedulikan akibat di kemudian hati. Orang yang cemerlang akalnya adalah yang bisa mempertimbangkan akibat. Andaikata orang yang mengumbar pandangan mengetahui akibat dari perbuatannya, tentu dia tidak akan berani lancang mengumbar pandangan.

10. Membebaskan hati dari syahwat yang memabukkan dan kelalaian yang melenakan

Mengumbar pandangan mata pasti akan membuat pelakunya lalai terhadap Allah dan memikirkan hari akhirat serta membuatnya mabuk kepayang dalam tawanan cinta.

Referensi :

1. Alqur’an dan Hadist

2. Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu

3. Pudarnya Pesona Cleopatra

4. Mencari Mutiara di Dasar Hati

***

Catatan Terakhir

Oleh: Thufail al-Ghifari

Terjagalah dari segala maksiat

dari segala zina dan nafsu dunia yang sesat

disatukan dalam karunia yang suci bersama jiwa jiwa

yang selalu haus akan ibadah dan penuh harga diri

ini bukan cerita cinderela

bukan juga patah arang cinta buta siti nurbaya

tak dapat diukur tapi bersama Allah

semua pasti akan teratur

dinyatakan dalam ketulusan

dari mutiara ketakwaan yang sangat mendalam

bersemi dari pupuk akhlak yang hebat

berbuah dalam kesabaran dan ketekunan yang lebat

tidak, ini takkan dimengerti

oleh hati yang penuh dengan dusta

yang buta oleh warna warni dunia yang fana

ini hanya untuk mereka yang selalu ingin luruskan

keteladanan bagi generasi berikutnya

keteladanan abadi dalam harum kesturi dan buah ibadah

dan menjadi manis seperti kurma

diawal rembulan yang indah

untuk selalu berjalan dalam kesetiaan dan harapan

dan hanya mau mencium

atas dasar kemurnian kita berkata cinta

karena bukan apa siapa dan bagaimana

tapi luruskanlah dalam wangi surga

karena apa sebenarnya kita berani berkata cinta

Reff:

hingga rambut kita memutih

hingga ajal kan datang menjemput diri ini

hingga rambut kita memutih

hingga ajal kan datang menjemput diri ini

inilah cinta sejati

cinta yang tak perlu kau tunggu

tapi dia tumbuh bersama doa malam yang teduh

tak tersentuh oleh mata dunia yang palsu

petunjuk yang selalu datang

dari ruang para malaikat

yang sanggup melihat tak kenal pekat

tak lekang oleh zaman yang kan terus melaju

takkan habis oleh waktu

karena kecantikannya tersimpan di hati

dalam pesona yang selalu menjaga jiwa

yang menjadikan dunia menjadi surga

sebelum surga sebenarnya

yang membuat hidup lebih hidup

dari kehidupan sebenarnya

seperti sungai yang mengalir

bening airnyapun selalu artikan keseimbangan syair

yang satukan dua perbedaan dalam satu ikatan

untuk melihat kekurangan sebagai kesempatan

dan kelebihan sebagai kekuatan

lalu saling mengisi seperti matahari dan bulan

dalam kesetiaan ruang kesolehan dan kasih sayang

bagi sejarah penutup halaman terakhir perjalanan

para kesatria sastra jihad dan dakwah

tercatat dalam untaian rahmat berakhir

dalam catatan terakhir yang mulia

digariskan hanya oleh ketetapan Allah Subhanahu wata’ala

-Back to Reff


sesuatu yang baru itu tampak lebih indah. Menahan mata bisa menutup pintu ini, yang karenanya banyak raja-raja tidak mampu mewujudkan apa yang diinginkannya.

9. Menguatkan dan mengokohkan akal

Mengumbar pandangan mata tidak  dilakukan kecuali oleh orang yang lemah akalnya, gegabah dan tidak mempedulikan akibat di kemudian hati. Orang yang cemerlang akalnya adalah yang bisa mempertimbangkan akibat. Andaikata orang yang mengumbar pandangan mengetahui akibat dari perbuatannya, tentu dia tidak akan berani lancang mengumbar pandangan.

10. Membebaskan hati dari syahwat yang memabukkan dan kelalaian yang melenakan

Mengumbar pandangan mata pasti akan membuat pelakunya lalai terhadap Allah dan memikirkan hari akhirat serta membuatnya mabuk kepayang dalam tawanan cinta.

Referensi :

1. Alqur’an dan Hadist

2. Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu

3. Pudarnya Pesona Cleopatra

4. Mencari Mutiara di Dasar Hati

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: