LEMBAR TADZKIRAH#3

· Islam

BACALAH, AKU SEDANG MEMBINCANGIMU

oleh: Kinta Mahadji’05

Wangi dedaunan, aku paling suka wangi ini, disertai angin lembut yang menerpa punggung dari belakang menambah romantisme tempat ini. Ya, aku memiliki tempat favorit untuk duduk sambil berpikir dan melakukan pekerjaan yang membutuhkan sebagian besar fungsi otak kiri, mungkin ini yang menjadi sebab mengapa aku tidak cocok menjadi web desainer, desain grafis, keduanya merupakan pekerjaan masa lalu ku setelah lulus SMA. Karena telah ditolak oleh Fasilkom UI, akhirnya aku memutuskan untuk mencari kerja sambil menunggu SPMB selanjutnya. Tak terasa setahun bekerja, kutantang kembali soal-soal SPMB di tahun kedua, alhamdulillah aku masih belum diterima di Fasilkom, huhuhu.. Kembali bekerja menjadi pilihan selanjutnya, ketika mendekati SPMB tahun ketiga aku mengundurkan diri dan fokus untuk menghadapi soal-soal SPMB yang ketiga kalinya.

Tahukah kamu kawan? Benar! Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha hambanya, perdjoeangan panjang untuk menempuh cita-cita, malam-malam yang tidak pernah luput dari doa, restu orang tua yang tak pernah ditinggalkan menjadikan akhir perjalanan ini lebih romantis dari yang diduga, alhamdulillah aku diterima di PNJ. Lho? Bukannya tadi mau masuk ke fasilkom?  Ya. Allah menghendakiku masuk ke kampus itu, sebuah kampus dengan suasana pegunungan, jika kau masuk ke dalamnya, tepatnya di samping masjid, maka suasana pegunungan dapat kau rasakan. Aroma pohon-pohon pinus besar yang menyejukkan dan betah untuk berlama-lama.

PNJ, sebuah kampus yang memiliki sistem hampir sama dengan sekolah, masuk 07.30 dan pulang jam 15.30, fulltime, istirahat pukul 12.00 sampai pukul 13.00. Lantas bagaimana dengan UKM nya ? Apa masih mungkin mengurus UKM dan aktif di organisasi dengan waktu yang padat layaknya pekerja? Yup, bisa banget. UKM Fikri atau Rohis di SMA, biasa mengadakan syuro sebelum pukul 07.30, kami biasa shubuh berjamaah, tak sering pula kami mabit untuk melanjutkan estafet dakwah. Subhanallah. Lelah? Ya. Namun ada ‘keasikkan’ tersendiri, ada sebuah rasa unik yang menjalar sampai hati.

*** 3 tahun berlalu

Di sebuah tempat, di samping danau, dengan suasana penuh haru, kami dilantik menjadi wisudawan-wisudawati, memakai toga lengkap dengan aksesorisnya, para perempuan memakai riasan wajah yang tak biasa, sampai-sampai aku tidak mengenalinya.

*** Beberapa bulan kemudian, di suasana lebaran

Aku bersyukur tinggal di kampung yang masih menjalankan adat ‘luar rumah bertaburan’. Setelah shalat id, semua orang keluar rumah, meminta maaf satu sama lain, khusus keluargaku, pasti kami langsung ke keluarga besar yang ada di tengah kampung. Di sana bisa dibilang adalah puncak kumpulnya orang-orang sekitar, karena sang suami adalah yang dituakan, sudah menjadi khas adat betawi, yang muda ke tempat yang lebih tua. Pernah kami keluar dari pakem ini, dengan ikut mengitar bersama masyarat. Huff. Luar biasa lelahnya, dari satu pintu ke pintu lain, dan terakhir berkumpul di  rumahnya, rumah yang tadi kusebutkan.

Semuanya tumpah ruah di sana, meluapkan perasaan, mentransfer rasa haru, karena semakin ke sini, orang-orang yang dirindu dan teman sejak kecil sudah mendahului.

*** Di pojok ruangan

Tak mau kalah seru dengan yang di depan, di pojok ruangan anak-anak dikumpulkan, agar tidak mengganggu alur lalu lalang orang-orang yang keluar masuk untuk bersilaturahim.

“Ka Kinji !”,

Hupp! Zahra dari belakang berlari kencang dan menompo punggung belakangku, minta digendong. Tak kalah seru, adiknya, Salwa juga begitu. Jadilah aku ikan pepes ditindih anak-anak bocah, dan semua pun menertawaiku. Karena sifat marah Allah tidak berikan padaku, jadilah aku ikut tertawa bersama anak-anak.

“Hahahaha”,

“Lihat tuh si Kinji, pasti deh kalau ada Kinji selalu ada anak-anak”, celoteh kakakku.

“Hhe, ya biarin aja dah. Si Kinji kan masih bocah, jadi temenannya sama bocah”, sahut kakakku yang satu lagi.

“Emang dah pantes buat nikah tuh bocah”, nenek menimpali.

*** Pertemuan dengan para ustadz

“Duhai anak muda”, sapa Ustadz Arifin.

Benar apa kata orang, wajah ustadz ini mengingatkan kepada Allah, teduh, penuh wibawa, suaranya yang serak-serak basah menambah daya kagum kepada sang ustadz.

Dengan penuh hormat, aku menjulurkan tangan. Ustadz pun berbalas dan kucium dengan penuh cinta. Subhanallah, wangi, sulit untuk menggambarkannya dalam bentuk kata-kata.

“Sudah menikah?”, kalimat yang tidak pernah diduga. Baru mau buka mulut, ustadz ihsan yang sudah tiba lebih dulu menyelak, “Belum ustadz, punya calon? Insyaallah si Kinji dah siap, betul begitu kan Kinji?!”, “E e e iya ustadz insyaallah”, Huff, gugup luar biasa.

Pertemuan itu dilanjut dengan merekam video untuk salah satu media online. Sungguh aku menyukai hal ini, bertemu dengan para ustadz, silaturahmi dengan banyak, ada sebuah kalimat dari seorang kawan yang sangat kusuka, “Gak punya uang, gak punya skill ga papa, yang papa (baca : miskin) itu kalau tidak punya teman”

*** Menjelang usia 24 tahun

Beberapa bulan lagi genap sudah usiaku menjadi 24 tahun, ketika menginjak bulan itu maka sudah 9 bulan sejak kelulusanku. Ketika teman-teman sibuk dengan melamar pekerjaan, aku masih santai, mengerjakan pekerjaan yang alhamdulillah mencukupi diriku saat ini – mengajar, menulis, coding.

*** Allah Sayang Aku (ASA)

Dua minggu lalu, sebelum tidur aku mendekat ke pangkuan Ibu, berbicara lembut padanya

“Bu …”,

“Ya, Le …”, ibuku berasal dari cirebon makanya dipanggil le, keluarga besar yang kuceritakan diatas berasal dari bapak.

“Kinji mau menikah …”,

“Memang sudah punya calon ?”, tanya ibuku

“Belum, Bu …, masalah ini biar Allah yang atur …”,

“Tawakkal itu setelah doa dan ikhtiar dikerahkan, Le… “,

“Iya Kinji paham, restu dari Ibu lebih Kinji butuhkan saat ini”,

“Do’a Ibu selalu menyertaimu, Le …”, sambil mengelus kepalaku dengan lembut.

*** Jawaban pertama dari Allah

Pada malam itu entah kenapa suasana sangat tenang. Jangkrik yang biasa bernyanyi tak terdengar sama sekali. Apa kupingku tuli oleh perasaan? Kuacuhkan saja, karena Allah telah menunggu hamba yang terbangun di sepertiga malam dan dengan setia mendengar curhatan hambanya.

Bagai kilat, doa itu pun naik ke langit. Tak perlu perantara, menurut pengalaman orang sholeh, jawaban surat cinta akan sampai dua-tiga hari. Namun, sepertinya Pencipta perasaan ini berkehendak lain, surat cinta itu langsung dibalas malam itu juga.

“Ya, aku siap untuk menjalankan apa yang Rasul contohkan. Ya, aku siap untuk menikah. Bismillah”, tekadku malam itu.

*** Pertanda dari ustadz dan kawan

Sms dari ustadz, “Allah yubaarik fiika ya akhil-karim, zawwajak Allah bi mar-atin sholihah, amin”. Artinya kurang lebih begini, “Ya Allah muliakanlah saudaraku, dan nikahkanlah dengan wanita sholeh, semoga Allah meridoi”.

SMS dari saudara yang kujadikan patokan dalam kebaikan, “Saudaraku, sungguh engkau berikhtiar. Bertawakal dan serahkan semuanya pada Allah. Apa yang ditakdirkan untukmu pasti akan menjadi hakmu”.

Dan sms-sms lain yang mulai masuk ke inbox handphone ketika aku menyatakan bahwa diriku siap menikah.

*** Minggu berikutnya

Pena telah diangkat, tinta telah mengering, Allah telah mencatat dan mempersiapkan skenario berikutnya untukku, malam-malam panjang penuh doa dan harapanpun dipanjatkan, berharap Allah memberikan bayangan siapa yang akan menjadi calon istriku.

Berbekal buku istikharah yang dipinjamkan teman, aku memulai pencarian untuk menggenapkan separuh dien. Membaca tata cara istikharah, cara berdo’a istikharah, saat membaca buku itu aku baru tahu, pantang bagi seorang hamba untuk meminta yang terkesan memaksa. Sesungguhnya Allah Maha Tahu yang terbaik, mulai saat itu aku mengganti format doa yang diajarkan dalam buku tersebut. Sebuah ikhtiar yang panjang.

*** Percakapan keesokkan harinya

“Tumben akhi. Ada apa? Kok rasanya spesial banget”, tanya temanku

“Hhe, ketebak ya …”, jawabku

“Ya iyalah. Karena gak biasanya begini J “,

“Iya akhi, ana mau konsultasi”, lanjutku

“Monggo, apa yang bisa ana bantu”, jawab temanku

“Ana sudah siap menikah …”, jawabku dengan tekad kuat

“Subhanallah. Kecil-kecil cabe rawit, yang dah gede aja belum nikah-nikah tuh”, jawab temanku

“Hush, udah ahh, ana mau minta sarannya akhi”, balasku dengan agak cepat

“Iya, ana paham, antum sudah punya calon?”,

“Belum …”, sambil cemberut sedikit

“Mau nikah masa belum punya calon..”, sambil meledek

“Ana gak paham akhi. Bagaimana caranya?”,

“Sudah istikharah ?”,

“Sudah” , jawabku

“Terus bagaimana jawabannya?”,

“Ini jawabannya, ana siap menikah”, Jawabku

“Ketika istikharah, ajukan nama ke Allah, kemudian berdoa, ‘Ya Allah. Jika dia baik menurutmu maka dekatlah dan mudahkanlah prosesnya. Jika tidak, maka berikanlah jodoh yang sholeh untuknya’”,

“Ok, siap”, kemudian aku langsung meluncur kembali ke rumah.

“Eee, mau kemana, belum selesai!”, teriak temanku.

“Mau praktekin apa yang dah antum kasih”, jawabku dari kejauhan.

“Semoga Allah memudahkanmu”.

*** Malamnya

Seperti biasa, sebelum tidur ada aktifitas rutin yang kulakukan dan rasanya ada yang kurang dan mengganjal kalau tidak dilakukan. Sebuah kebiasaan untuk membaca, entah mengapa, malam itu aku tertarik mengambil kitab hadist di rak buku yang berada di samping tivi.

“Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niat. Dan setiap orang itu akan mendapat sesuatu sesuai dengan niatnya. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka Hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang berhijrah untuk mendapatkan dunia dia akan mendapatkannya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya maka Hijrahnya itu mengikut apa yang diniatkannya”. Arbain no 1

“Ya. Allah lewat rasulnya menegur secara tidak langsung kepada Hatib karena ingin ikut berhijrah untuk mendapatkan wanita yang diidamkannya. Ya . Aku tidak boleh seperti Hatib. Aku adalah aku, Allah Sayang Aku”, bisikku dalam hati, kemudian aku lanjut tidur.

*** Jawaban pertama dari Allah

Malam-malam panjang telah kulalui bersama Allah, malam penuh khauf dan roja’, seakan Allah membisikkan ke telingaku, “laksanakan tekadmu, kuatkan azzammu”, Khawatir jawaban pertama adalah bisikan syetan atau hawa nafsu akhirnya aku mengikuti petunjuk yang ada dalam buku dan saran dari ustadz. Genaplah sudah 7 hari melaksanakan shalat istikharah dan aku semakin mantab dengan pilihan yang telah kuajukan kepada Allah.

*** Hari-hari penuh kebimbangan

“Ya Allah apakah benar dia adalah jodohku ? Ya Allah aku baru mengenalnya. Siapa dirinya, bagaimana wajahnya aku tidak tahu. Yang kutahu, semangatnya memperjuangkan dakwah begitu besar, keinginan untuk menjaga adik-adiknya serta kehangatan sikap yang adik-adik katakan, selebihnya aku tidak tahu”,

Ya. Di atas adalah curhatanku kepada Allah di malam terakhir, namun jawabannya tetap sama – kemantapan hati.

*** to be continued

Duhai kawan, di atas adalah sebuah kisah nyata, atas izin ‘sang aku’, ana mencoba menulis ulang. Inginnya menceritakan sampai habis. Namun ‘sang aku’ belum menceritakan kisah berikutnya. Yuk kita doakan semoga proses untuk menggenapkan diennya dimudahkan oleh Allah.

Duhai kawan, di atas adalah potongan cerita tentang seorang ikhwan yang sedang mencari pasangan hidup, pasangan dunia-akhirat. Tasaro GK dengan indah mengatakan ini kepada istrinya lewat buku Muhammad Lelaki Penggenggam hujan.

Bacalah, aku sedang membincangimu. Seseorang bukan siapa-siapa sampai dia mencintai. Maka engkau telah membangunku menjadi sesuatu, dan aku ingin menjadikanmu sebagai seseorang dunia – akhirat. Tasaro GK, MPLH

Duhai kawan, begitulah islam mengajarkan, menjaga hijab yang bukan muhrimnya, menjaga mata dan hati. Mata adalah panglima hati, hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Bila mata dibiarkan memandang yang dibenci dan dilarang, maka pemiliknya berada di tepi jurang bahaya. Meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh ke dalam jurang. Demikian potongan nasihat yang ana kutip dari Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin.

Sebagian shalafusshalih pun mengatakan, “Banyak makanan haram yang bisa menghalangi orang melakaukan shalat tahajjud di malam hari, Banyak juga pandangan kepada yang haram sampai menghalanginya dari membaca Kitabullah”.

Dalam Al-qur’an Allah berfirman :

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. An-nur 30

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. An-nur 31

Mengutip pula dalam Raudhatul-Muhibbin, hal 182-190, “Sesungguhnya seseorang yang bersemangat tidak akan terpengaruh oleh cinta yang bisa menghalangi ketenangan, membuat tidur tidak bisa nyenyak, membuat bingung akal pikiran, atau bahkan membuatnya menjadi gila. Betapa sering terjadi seseorang yang sedang dimabuk cinta menghabiskan harta dan mengorbankan jiwa serta kehormatannya demi yang dicintainya. Bahkan ia rela mengorbankan agama dan dunianya.

Cinta sanggup membuat tuan menjadi pelayan, dan penguasa menjadi budak. Anda lihat, banyak orang yang sudah terlanjur masuk dalam jerat cinta ingin keluar darinya. Tetapi hal itu mustahil. Berapa banyak fitnah cinta yang menjebloskan orang-orang yang bersangkutan ke dalam neraka Jahim, menjerumuskan mereka pada siksa yang sangat pedih, dan membuat mereka meneguk air gelas neraka yang panas mendidih?”

Alhamdulillah. Semoga Allah memberikan naungan dan berkahnya kepada kita semua. Amin. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: