Bertarung dengan Masalah

· Goresan Kehidupan

Yang namanya biji tanaman atau bibit tidak hanya satu jenis, melainkan
ada variasinya. Biji-biji itu tidak sama antara yang satu dengan yang
lainnya. Ada bibit yang biasa aja, ada juga bibit unggulan. Perlu ada
proses seleksi untuk memisahkan antara bibit unggul dan bibit yang
biasa aja. Anda semua, tanpa terkecuali, adalah representasi dari biji
atau bibit unggul. Karena anda telah berhasil lolos ujian masuk ke UI.
Itu sudah cukup menjadi bukti bahwa secara intelektual anda lebih
unggul dibandingkan teman-teman satu SMA anda dahulu. Dan itu artinya,
departemen ini telah diisi oleh begitu banyak bibit unggul. Kita harus
sadar bahwa saat ini kita sedang berada dalam suatu komunitas anak
muda yang cerdas. Sekali lagi, kita perlu sadarkan diri kita semua
bahwa kita ini adalah kumpulan anak muda cerdas.

Akan tetapi, kita tidak boleh lupa kalau bibit atau biji hanya bisa
tumbuh pada lingkungan tertentu. Pernahkah anda melihat biji-biji
tumbuh berkembang mengeluarkan tunasnya manakala dia berada di dalam
toples kaca tertutup rapat, dalam kegelapan lantaran dirinya tersimpan
di dalam lemari kitchen-set seharga 20juta rupiah? Tidak mungkin! Dia
tidak mendapati sirkulasi udara dan sinar matahari yang membuat
dirinya berdaya untuk tumbuh. Se-unggul apapun varitas sebuah biji,
kalau lingkungannya terlalu nyaman seperti itu, dia tidak akan pernah
menjadi pohon besar, walaupun dia berhak punya mimpi menjadi pohon
besar yang rimbun dan berbuah banyak. Dia tetap punya hak untuk
menumbuhkan rasa iri ketika pandangannya menerobos kaca jendela dapur
hingga terlihat ada pohon di halaman yang tumbuh semakin besar dari
hari ke hari, sementara dirinya terpenjara di dalam dapur yang mewah.

Jika boleh, ambillah satu biji dari toples-nya, lalu lemparkan dia ke
tanah yang jorok dan bau. Biarkan dia terkapar di antara kotoran sapi,
kotoran kambing yang bercampur dengan tanah bekas bakaran dan jerami
bakar. Jangan kasihani dia ketika tubuhnya dibakar panas terik
mentari. Jangan beri dia simpati; karena dia tidak memerlukan simpati,
Pro XL, Kartu Hallo dan sebangsanya. Jangan khawatirkan dirinya
walaupun di luar sana dia kegetiran yang luarbiasa basah kuyub diguyur
hujan di tengah gulita malam. Biarkan saja dia; dia tidak perlu payung
apalagi jaket. Jangan cemaskan dia; dia tidak akan membusuk walaupun
sekelilingnya membusuk dan hancur. Tak perlu risau; dia akan mampu
bertahan melawan ketidaknyamanan ekstrim yang selama ini tak pernah
dia rasakan di dalam dapur mewah. Justru kalau perlu, kita catat
hari-hari itu sebagai hari-hari bersejarah baginya dimana dia baru
belajar mengeja sebuah kata yaitu “kehidupan”. Kita perlu catat hari,
tanggal, jam, menit dan detik-detik bersejarah dalam hidupnya dimana
dia baru belajar menyulam dua kalimat tanya yaitu “how to survive?”
dan “how to be exist?”, disaat tak ada apapun yang bisa menolongnya
kecuali dirinya sendiri. Dan insya Allah besok pagi dia sudah temukan
jawaban dua pertanyaan itu. Tunas akarnya muncul keluar.

Tunas akarnya yang lemah telah muncul. Itulah jawabannya. Begitu
muncul, tunas akar itu sudah tahu kemana dia harus bergerak. Dia tidak
akan bergerak ke atas lalu menghadirkan daun. Tidak, itu bukan
tugasnya. Dia juga tidak akan bergerak ke samping kiri atau ke kanan.
Tidak, dia tidak se-iseng itu. Dia pasti akan langsung bergerak menuju
ke bawah mencari permukaan tanah. Silakan anda bolak-balik posisinya,
pasti akar itu akan tetap mencari permukaan tanah, walaupun ia perlu
waktu untuk merubah orientasi geraknya menuju ke permukaan tanah
kembali. Dia tidak punya otak seperti kita, tapi dia paham betul
betapa penting yang namanya konsistensi dan komitmen. Dia mengerti
betul kalau dis-orientasi tujuan hanya akan membuat dirinya mati.

Begitu dia menemukan permukaan tanah, dia akan berusaha masuk ke dalam
tanah untuk menghisap unsur-unsur hara, kemudian mengalirkannya ke
biji yang masih terkapar dipermukaan tanah. Ternyata dia tidak
berhenti sampai disitu. Walaupun ada batu yang menghalangi jalannya,
dia pasti mampu menggeser ujung akarnya secara perlahan guna mencari
celah yang bisa ditembus untuk melanjutkan perjalanan ke tempat yang
lebih dalam. Never give up and keep fighting till the end, itulah
prinsip yang dikenalnya. Ia lalu bercabang. Semakin hari semakin
banyak cabang akarnya, semakin besar pula ukurannya serta makin
bertenaga. Sampai-sampai batu yang semula menghalangi jalannya tadi
telah berhasil digenggamnya dan siap untuk diremukkan. Padahal dulunya
dia begitu lemah dan tak berdaya. Sekarang segala kelemahan itu
tinggal menjadi kenangan dimasa yang lalu.

Kerja-kerja akar tidak pernah terlihat dari permukaan tanah. Jauh dari
hingar-bingar popularitas dan publikasi. Tapi akar tidak peduli dengan
itu semua. “Itu semua ngga penting Coy..!”, begitu katanya. Ia memilih
bekerja dalam kesunyian tanpa harus disuruh-suruh!

Setelah sekian lama akar bekerja di bawah tanah, kita saksikan
dipermukaan tanah, biji tadi perlahan akan terbelah. Dari belahannya
keluar pucuk bakal daun yang akan menjadi daun pertama-nya. Lembaran
daun pertama nya itu lahir dari kerja keras tunas akar. Adakah biji
tumbuhan yang bisa mengeluarkan daun pertamanya sebelum ada akarnya?
Impossible.

Daun pertama jumlahnya ngga akan banyak. Paling banyak cuma dua atau
tiga, malah kadang cuma satu lembar. Rasanya ngga pernah ada daun
pertama yang langsung berjumlah sepuluh atau lebih. Si biji tadi
rupanya sangat paham dengan itu semua. Target jangka pendek minimal
yang paling realistis baginya adalah bisa menumbuhkan 2 lembar daun
saja. Bunga dan buah itu nanti. Itu target pertumbuhan jangka panjang.

Selain jumlahnya sedikit, daun pertama posisinya juga begitu rendah.
Sama rumput juga kalah tingginya. Tapi rumput selamanya akan selalu
rendah, sementara daun pertama tadi setelah melewati waktu yang lama,
kelak ia akan tumbuh menjadi pohon yang tinggi menjulang. Jadi daun
pertama itu adalah wujud eksistensi keberadaan dirinya ditengah
komunitas tumbuhan di sekelilingnya. Mulanya dia tidak ada, kini
menjadi ada; walaupun masih kalah tinggi sama rumput. Semakin rajin
akarnya membentuk cabang, dan semakin sabar tunas akar berjuang
menembus kerasnya bebatuan, maka daun pertama tadi akan semakin cepat
tumbuh ke atas melahirkan tunas dahan yang baru lalu menghadirkan daun
kedua, daun ketiga dst. Ia pun akan semakin meninggi menjadi setinggi
rumput atau malah bisa lebih tinggi lagi.

Begitulah rekan-rekan mhs ysh, semua ada waktu-waktunya. Dari sejak
keluarnya tunas akar dari biji, hingga muncul daun kedua atau ketiga,
semua itu ada tahapannya. Jangan pernah berharap kita bisa menyaksikan
kemunculan daun kedua manakala daun pertama belum ada, walaupun kita
paksa dengan cara apapun, apalagi kalau akarnya belum ada. Semuanya
mesti berproses dalam durasi waktu yang orde-nya bukan detik. Jadi
walaupun lambat, dia tidak mati. Dan jangan pernah mengira kalau dia
mati. Anda keliru. Dia hidup walau nampak tidak bergerak.

Setelah melewati periode yang lama, kita akan saksikan sebuah pohon
yang berdiri kokoh. Akar-akarnya menghunjam dan mencengkeram bumi.
Angin puting beliung tak akan mampu merobohkannya. Semakin bertambah
usianya, ia akan semakin bertambah kuat, berbeda dengan mahluk hidup
lainnya yaitu hewan dan manusia yang semakin tua semakin ringkih.

Itulah perjalanan panjang dari biji yang telah mengajarkan kita
bagaimana caranya tumbuh dengan benar. Tahapan-tahapannya
menggambarkan rangkaian proses yang sambung-menyambung, wajar, logis
dan masuk akal serta patut ditiru. Setiap biji mesti sadar bahwa hanya
ada satu cara untuk bisa mencapai impiannya menjadi pohon besar yang
kuat dan kokoh, yaitu manakala ia mau dilempar ke tanah, kemudian ia
mau bersabar melewati proses yang tidak sebentar.

Rekan-rekan mahasiswa yang saya hormati,
PKM, grup riset dan organisasi adalah media bagi anda untuk bertarung
dengan masalah.
Kalau sebuah biji saja berani bertarung melawan masalah dan berhasil
meraih mimpinya menjadi pohon besar setelah menaklukkan masalahnya
satu-per-satu, maka apalagi kita?

(diambil dari message Bapak Supri, Dosen FISIKA UIdi milist mahasiswa FISIKA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: