Jalan itu….

· Tulisanku

Menapaki langkah-langkah berduri
menyusuri rawa lembah dan hutan
berjalan di antara tepi jurang

Semua dilalui demi perjuangan
Letih tubuh di dalam perjalanan
saat hujan dan badai merasuki badan

Namun jiwa harus terus bertahan
karena perjalanan masih panjang
Kami adalah tentara Allah

Siap melangkah menuju ke medan juang
walau tertatih kaki ini berjalan
jiwa perindu syahid tak akan tergoyahkan

Wahai tentara Allah bertahanlah
jangan menangis walau jasadmu terluka
sebelum engkau bergelar syuhada
tetaplah bertahan dan bersiap-siagalah

**

Seperti yang lain, sebelum membaca buku pasti yang dibaca terlebih dahulu adalah daftar isinya. Karena dari sanalah kita bisa mengetahui isi buku secara keseluruhan. Ada satu hal yang menarik saat nisa membaca buku New Quantum Tarbiyah karangan Solikhin Abu ‘Izzuddin. Pada bab Spirit yang Hilang, ada subbab yang tertulis dengan kata-kata “Nasyid : Jejak”. Reflek, mata ini langsung tertuju pada tulisan itu. Nisa yang memang sangat menyukai lagu nasyid, segera membuka subbab tersebut dan membaca syairnya. Sepertinya, nisa pernah dengar lagu ini.

Nasyid asli buatan Meidani dari kota Syampurno (kata Bang Solikhin) ini cukup menggertarkan hati. Setelah diingat-ingat kembali, ternyata mp3nya ada di kompi (red:komputer). Dan yang menyanyikan adalah Tim Nasyid Izzatul Islam. Wah.. Semakin semangat nisa untuk mendengarkan lagu itu.

Berulang-ulang lagunya didengarkan. Maknanya diresapi, begitu mendalam. Memang begitulah jalan dakwah. Banyak duri yang harus dilewati, jalannya pun tak mulus. Naik, turun, berliku, dan sesak. Tapi, itu semua harus kita lalui karena inilah perjuangan.

Kelelahan dan luka fisik takkan menjadi halangan bagi kita untuk tetap bertahan di jalan ini. Karena perjalanan dakwah sangat panjang. Kalau kata Saujana dalam nasyidnya Sekeping Hati “Pangkalnya jauh, ujungnya belum tiba.” Yah, begitulah jalan dakwah. Panjang… Menuntut kita untuk berkorban.
Bahkan dalam arkanul bai’at, Imam Syahid Hasan Al-Banna mencantumkan pengorbanan (Tadhiyah) sebagai salah satu rukun dalam bai’at seseorang yang ingin berdakwah bersama Ikhwanul Muslimin.

“Isy kaariman aw muut syahiidan, satu tujuan” Hanya ada dua pilihan dalam jalan dakwah. Hidup mulia atau mati syahid. Semangat tak pernah padam sebelum kemenangan tiba atau syahid menjemput. Karena satu tujuan, “Allahu Ghayatunaa”.

Terakhir, nasyid ditutup dengan kata-kata “ Tetaplah bertahan dan bersiap-siagalah”.

Khudzuw hidzrakum Yaa Ikhwah…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: