Kisah Seorang Aktivis

· Goresan Kehidupan

Ini adalah kisah seorang aktivis dakwah yang kini menjalani kehidupannya di tempat yang sangat menyibukkannya dalam rutinitas, bukan aktivitas yang berprestasi. Hari-harinya hanya berputar di situ2 saja. Rumah-kampus-mushola-rumah-kampus-mushola-rumah-dst… Aktivitasnya hanya belajar, syuro, pulang lagi ke rumah… Tiada prestasi yang ditorehkannya…

Sangat berbeda dengan masa dimana dia berada di SMA. Walaupun rutinitas dia jalani, tetapi prestasi selalu dia raih. Kecintaannya akan ilmu sangat tinggi. Semangatnya untuk belajar sangat membara. Sungguh, dia benar-benar berniat untuk mencari sebuah prestasi di sekolahnya. Amanah yang diberikannya pun selalu dijalankan. Karena dia ingin membuktikan bahwa seorang aktivis adalah orang yang terdepan dalam beramal dan menuntut ilmu.

Kisahnya di SMA sangat menarik. Dia adalah seorang pemuda yang usianya jauh di bawah teman-temannya. Walaupun dia tidak pernah mengalami proses akselerasi dalam studinya, tetapi memang dia adalah murid termuda di angkatannya. Meskipun usianya masih muda, kecerdasan dan semangatnya melebihi anak seusianya bahkan teman-teman sekelasnya. Setiap semester dia selalu menjadi juara  1. Semangat untuk berprestasinya itu membawa dia selalu mengikuti kompetisi dan olimpiade. Pada awalnya, dia dikenal sebagai murid yang pendiam. Tetapi, setelah beberapa bulan, dia sangat aktif di kelasnya. Terlebih ketika guru-guru telah mengenalnya sebagai anak berprestasi.

Bukan suatu yang dapat disangka, saat kelas XI, ia diberikan amanah sebagai salah satu petinggi ROHIS di SMAnya. Padahal, dia termasuk anak yang baru mengenal dakwah, atau mungkin saat itu dia belum mengenal dakwah. Berbulan-bulan ia menjalani kehidupannya dengan beban yang baru itu. Learning by doing. Itulah yang ia lakukan selama masa kepengurusannya di ROHIS.

Di akhir kepengurusan, dia sempat meninggalkan sebuah prestasi yang sangat membuat dia senang dan bahagia. Dia diberi kesempatan untuk menjadi peserta OSN tingkat provinsi. Walaupun prestasi itu terhenti, tetapi dia yakin, kelak akan meneruskan prestasi tersebut hingga taraf internasional.

Itulah kisah hidupnya selama di SMA. Sejak kuliah, dia merasa kesulitan untuk membagi waktunya. Apalagi saat ini dia mendapatkan empat amanah sekaligus. Bukan hal yang mudah untuk seorang pemuda yang usianya masih labil ini. Sempat terpikir untuk menomorsekiankan masalah prestasi.

Teringat perkataan seorang dosen, bahwa seorang aktivis haruslah menjadi garda depan dalam menuntut ilmu, karena dari sanalah ladang dakwah sungguh besar. Tetapi, itu bukan hal yang mudah. Membagi waktu 24 jam seperti para ulama terdahulu yang siap mengurangi jatah tidurnya demi memenuhi kehausannya akan ilmu. Itulah yang sebenarnya dia butuhkan. Masalahnya adalah dia belum terbiasa untuk tidur dengan waktu yang hanya sekadarnya saja dan di tempat kuliahnya saat ini, belum ada yang bisa mengback-upnya dalam partner dakwah. Dia masih sendiri. Ada yang memili SMA, SO (Study Orientation), dsb. Dia jadi teringat sebuah ayat yang menjelaskan bahwa hendaknya ada segolongan darimu yang berdakwah. Oleh karena itu, dia memilih untuk fokus pada kerja dakwah dibandingkan kejar ilmu.

Tetapi, setelah dipikir lagi, seharusnya dakwah dan ilmu jalan beriringan. Buktinya, saat dia SMA, masih bisa menorehkan banyak prestasi di sela-sela kerja dakwah. Mencoba untuk menganalisis hal ini, ternyata letak permasalahannya adalah di hati. Ada apa dengan hatinya?

Hati pemuda ini ternyata sedang kotor, tertutupi oleh bayangan semu yang melalaikan. Sehingga kerja dakwah dan ilmunya semakin jauh. Menjadi orang yang tidak profesional dalam berdakwah dan menuntut ilmu. Sebaiknya pemuda ini harus mengalami yang namanya tazkiyatunnafs. Penyucian jiwa. Dan tazkiyatulqolbu. Penyucian hati. Sehingga cahaya Allah dapat dipantulkan kembali dan terpancarkan melalui semangatnya, akhlaknya, dan prestasinya yang membuat citra aktivis semakin tinggi. Bukan menjadi orang yang lalai karena hatinya. Tetapi dia harus menjadi orang yang dengan hatinya dia unggul, menjadi muslim yang berkualitas, layaknya ibnu Abbas dengan ilmunya, hasan Al-Bana dengan ketangguhannya, Rahmat Abdullah dengan semangat tarbiyahnya, dan menjadi dirinya sendiri dengan segala potensinya.

Itulah yang harus dilakukan oleh pemuda ini. Semoga dia bisa menjadi Ar-Ruhul Jadid, dengan semangat yang baru untuk meniti kehidupan yang  baru, dengan prestasi-prestasi terbarunya yang tentunya harus lebih baik dari sebelumnya.

Terakhir, salam untuknya semoga bisa menjadi inspirasi banyak orang. Jadilah muslim sejati, yang memilki 10 kepribadiannya. Karena dengan itulah dia akan menuju ketakwaan kepada-Nya. Dan sesungguhnya orang yang mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Semoga dia adalah salah satu diantaranya.

Amin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: