Mendahsyatkan Semangat Kaderisasi

· Islam

“…dakwah ini tidak mengenal sikap ganda. Ia hanya mengenal satu sikap TOTALITAS. Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama dakwah dan dakwah pun melebur dalam dirinya. Sebaliknya, barangsiapa yang lemah dalam memikul beban ini, ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tertinggal bersama orang-orang yang duduk. Lalu Allah SWT akan menganti mereka dengan generasi yang lebih baik dan lebih sanggup memikul beban berat dakwah ini…”

(Hasan Al-Bana)

Assalaamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh…

Bagaimana kabar ruhiyahmu… Akhi wa ukhti fillah…???

MANTAP…!!!!

LUAR BIASA…!!!

ALLAHU AKBAR..!!!!

Mengawali penyemangat dengan tulisan Hasan Al-Bana, TOTALITAS. Ya, dalam melakukan kaderisasi kita butuh totalitas yang tinggi. Melakukan segalanya dengan TOTAL. Tidak setengah hati atau dengan semangat yang sekadarnya saja. Bahkan, jika kalian hanya duduk dan bersantai sia-sia, maka kalian akan tergantikan dengan orang-orang yang lebih baik, yang siap menjalankan amanahnya dengan TOTAL.

Akhi wa Ukhti….

Dalam sebuah artikel seorang aktivis dakwah mengatakan: “Full Spirit adalah KADERISASI dan KADERISASI adalah Full Spirit. Inilah yang harus kita pahami sebagai penerus estafet dakwah. Kader dakwah adalah yang senantiasa menebar virus-virus semangat, tak pernah letih dan henti menyemangati saudaranya, tak gentar barang sedetikpun dengan terpaan dan godaan melanda, karena kita adalah kader-kader dakwah, kader dakwah yang lebih memilih jalan yang licin dan terjal daripada jalan yang teduh dan lapang, demi tercapainya tujuan mulia kita, meraih keridhaan di sisi-Nya.”

Seperti perkataan Hasan al-Banna, “Ruhani yang menyala ibarat gardu listrik yang akan memberikan aliran listrik di sekitarnya.” Itulah ruhani yang seharusnya dimiliki oleh seorang aktivis dakwah dalam melakukan kaderisasi, membentuk kepribadian penerus estafet dakwah ini. Mengulas penjelasan sebelumnya bahwa kaderisasi harus dilakukan dengan TOTALITAS, FULL SPIRIT, dan dengan RUHANI yang MENYALA, agar dapat membentuk kader-kader dakwah yang unggul, yang siap meneruskan perjalanan dakwah ini.

“…kewajiban kalian sangat banyak, tanggung jawab kalian sangat besar, hak umat yang harus kalian tunaikan semakin berlipat, dan amanah yang terpikul di pundak semakin berat. Karena itu, kalian harus berpikir panjang, beramal banyak, menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat, dan menunaikan hak-hak umat dari pemuda dengan sempurna.” (Risalah Hasan Al-Bana: Ilaa Asy-Syabaab)

Wahai para pejuang dakwah, tugas kita amat sangatlah berat, dakwah ini tidak pernah butuh orang-orang lemah dalam mengemban amanahnya. Sudah banyak saudara kita yang dulu dengan sabar membimbing dan tak hentinya menyemangati kita melewati masa-masa yang serba sulit diterpa cobaan mendera, kini mereka telah berjatuhan di jalan ini, tidakkah sekarang antum antunna lelah? Di depan sana cobaan akan jauh lebih berat dan bersiap menguji komitmen kita kembali.

Sekolah, tugas, ulangan, jangan dijadikan sebagai alasan atas macetnya alur kaderisasi yang antum dan antunna lakukan. Jadikan itu sebagai tantangan, karena semakin sibuknya kita, maka semakin kita akan menghargai waktu yang diberikan. Dan kesempatan untuk belajar manajemen waktu, tidak akan didapatkan kecuali oleh orang-orang yang setiap harinya disibukkan dengan banyak aktivitas. Bersyukurlah, karena kalian mendapatkan kesempatan emas itu. Wahai penerus risalah dakwah38.. “… jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S Muhammad : 7)

“Tetapi, siapa yang akan kita kader??” “Bingung, SDMnya sangat sedikit.” Mungkin, masih banyak pertanyaan yang ada dalam benak kalian. Tetapi, janganlah kalian terjebak dalam masalah. Bepikirlah“Out of Box”. Jadilah problem solver, bukan sekadar problem thinker atau problem speaker. Jadikan masalah sebagai bahan bakar untuk memacu semangat kita untuk lebih bekerja keras, cerdas dan ikhlas dalam melakukan kaderisasi. Lihatlah semua peluang yang ada. Banyak adik-adik kelas kita yang sangat berpotensi untuk menjadi kader dakwah. Hanya saja kita belum menyadarinya. Oleh karena itu, bangkitlah wahai pejuang tangguh…!!!

“…dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka….” (Ust.Rahmat Abdullah)

Mengambil filosofi pohon pisang.”Takkan mati sebelum berbuah, takkan pergi sebelum beranak.”  Itulah yang harus ada dalam diri seorang aktivis dakwah. Selalu ada kontribusi dan selalu melakukan kaderisasi untuk membentuk pejuang dakwah selanjutnya. Menjadikan rekrutmen sebagai gaya hidupnya.

Wahai pelaku sejarah dakwah38… “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (Q.S Al-Insyirah:6-7)

Kesulitan yang kalian hadapi adalah bayaran awal dari berbagai kemudahan yang akan kalian terima nanti. Rintangan dalam mengkader adalah batu loncatan kalian untuk menjadi lebih tangguh dalam dakwah ini. Senantiasa berdoalah kepada Allah setelah urusan dunia kalian selesai. Dan jangan lupa untuk mengisi ruhani dan tetap dalam tarbiyah. Karena tidak mungkin bagi seseorang yang ingin mengkader orang lain untuk masuk dalam barisan dakwah, tetapi ruhani dan tarbiyahnya rusak. Hatinya kosong tak bermuatan. Dan bagaimana mereka bisa menebarkan muatan-muatan dakwah kepada yang lain jika dirinya sendiri tidak memiliki muatan??

Tanamkan komitmen ini..

Jika ada seribu orang yang berjuang di jalan Allah maka salah satunya adalah aku
Jika ada seratus orang berjuang di jalan Allah maka salah satunya adalah aku
Jika ada sepuluh orang berjuang di jalan Allah maka salah satunya adalah aku
jika hanya ada satu orang yang berjuang di jalan Allah maka itu adalah aku
dan jika tidak ada satupun yang berjuang di jalan Allah maka syahidku di dalamnya.

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.” (Ust. Rahmat Abdullah)

Dakwah tidaklah butuh kita tetapi kitalah yang butuh dakwah. Berdirilah akhi, berdirilah ukhti, ketika yang lain masih terduduk, berjalanlah ketika yang lain baru berdiri, dan larilah sekencang kuda perang ketika yang lain hendak berjalan. Itulah KADERISASI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: